
Indonesia Kembangkan Drone Berbasis Material Biomassa
Indonesia kembali menunjukkan perkembangan dalam teknologi pesawat tanpa awak. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Nurtanio (Unnur) Bandung mengembangkan prototipe Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dengan memanfaatkan material berbasis biomassa.
Inovasi tersebut menarik perhatian karena struktur wahana dikembangkan menggunakan material komposit berbasis serat alam, sebagai alternatif terhadap material konvensional yang umum digunakan pada struktur drone.
Riset ini memanfaatkan sumber daya biomassa yang tersedia di Indonesia, termasuk serat abaka dan material yang berasal dari tandan kosong kelapa sawit (TKKS).
Pengembangan material alternatif tersebut menjadi bagian dari upaya mencari struktur yang ringan sekaligus memiliki kekuatan yang sesuai untuk kebutuhan pesawat tanpa awak.
Seperti Apa Bentuk Dronekarya Indonesia Ini?
Dalam pengembangan bersama BRIN dan Universitas Nurtanio, terdapat dua prototipe yang menjadi perhatian, yakni UAV Vertical Take-Off and Landing (VTOL) dan quadcopter.
UAV VTOL memiliki kemampuan lepas landas dan mendarat secara vertikal. Sementara itu, quadcopter menggunakan empat rotor sebagai sistem penggeraknya.
Keduanya dikembangkan dengan pendekatan material berbasis biomassa.
Prototipe tersebut juga telah ditampilkan dalam kegiatan pameran riset dan teknologi, termasuk ORNM Talk and Expo 2026 yang diselenggarakan BRIN. Dalam kegiatan tersebut, Universitas Nurtanio memperkenalkan hasil kolaborasi riset material komposit biomassa untuk aplikasi teknologi UAV.
Menggunakan Serat Abaka dan Limbah Kelapa Sawit
Salah satu material yang menjadi perhatian adalah serat abaka.
Peneliti Universitas Nurtanio menjelaskan bahwa serat abaka memiliki densitas relatif rendah, sekitar 1 gram per cm³. Nilai tersebut lebih rendah dibandingkan serat karbon yang sekitar 2,2 gram per cm³ dan aluminium sekitar 3,8 gram per cm³.
Karakteristik tersebut membuat serat abaka menarik untuk dikembangkan sebagai material struktur UAV.
Selain serat abaka, penelitian juga memanfaatkan serat tandan kosong kelapa sawit. Limbah perkebunan tersebut diproses menjadi material yang dapat digunakan dalam komposit.
Pendekatan ini sekaligus membuka peluang pemanfaatan limbah biomassa menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
Dua Jenis Drone Dikembangkan
Dalam kolaborasi tersebut, UAV VTOL dikembangkan dengan material komposit yang memanfaatkan serat abaka dan serat TKKS, ditambah karbon aktif dari TKKS.
Sementara itu, quadcopter menggunakan material epoksi yang dikombinasikan dengan komposit serat abaka dan karbon aktif bambu.
Penggunaan material tersebut menunjukkan bahwa pengembangan drone tidak hanya berfokus pada kemampuan terbang, tetapi juga pada inovasi material.
Dengan memanfaatkan sumber daya biomassa lokal, penelitian ini berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap material konvensional tertentu dalam pembuatan struktur wahana.
Bobot Menjadi Salah Satu Keunggulan
Salah satu alasan material serat alam diteliti untuk aplikasi drone adalah bobotnya.
Dalam penerbangan, bobot merupakan faktor penting karena berhubungan dengan kebutuhan energi dan kemampuan membawa muatan.
Serat abaka yang memiliki densitas relatif rendah berpotensi membantu menghasilkan struktur yang lebih ringan. Pengujian yang dilaporkan dalam pengembangan tersebut juga menunjukkan kekuatan tarik serat abaka pada aplikasi quadcopter mencapai sekitar 111,5 MPa.
Meski demikian, material baru tetap membutuhkan serangkaian pengujian sebelum dapat digunakan secara luas pada produk penerbangan. Faktor seperti kekuatan, ketahanan, umur pakai, kondisi lingkungan, serta konsistensi produksi menjadi bagian penting dalam proses pengembangan.
Bukan Sekadar untuk Pameran Teknologi
Pengembangan drone berbasis biomassa tersebut memiliki sejumlah potensi penggunaan.
Wahana dapat diarahkan untuk membantu kegiatan pemetaan lahan, pemantauan tanaman, identifikasi hama hingga pengukuran kadar air tanah.
Teknologi tersebut dapat menjadi pendukung sektor pertanian dan perkebunan, terutama pada wilayah dengan area yang luas dan sulit dipantau secara manual.
Selain sektor pertanian, UAV juga berpotensi digunakan untuk membawa peralatan ringan maupun kebutuhan medis ke lokasi tertentu yang sulit dijangkau kendaraan darat.
Potensi penggunaan tersebut membuat riset material drone tidak hanya berkaitan dengan persoalan teknologi penerbangan, tetapi juga kebutuhan praktis di lapangan.
Jarak Tempuh Mencapai 10 hingga 15 Kilometer
Berdasarkan informasi yang dipublikasikan mengenai prototipe tersebut, kedua wahana memiliki jarak tempuh sekitar 10 hingga 15 kilometer, tergantung konfigurasi dan kapasitas baterai.
UAV VTOL juga dilengkapi kamera untuk mendukung kebutuhan operasionalnya. Sementara quadcopter telah melalui pengujian dan dilaporkan dapat terbang dengan baik.
Namun, angka tersebut merupakan karakteristik prototipe dan bukan berarti seluruh drone berbasis biomassa yang dikembangkan nantinya akan memiliki spesifikasi sama.
Spesifikasi akhir sangat bergantung pada desain, material, sistem penggerak, baterai, muatan, serta tujuan penggunaan.
Mengubah Limbah Menjadi Material Bernilai
Salah satu aspek menarik dari penelitian ini adalah pemanfaatan biomassa yang tersedia melimpah di Indonesia.
Tandan kosong kelapa sawit selama ini merupakan salah satu limbah dari industri kelapa sawit. Dengan teknologi pengolahan yang tepat, material tersebut dapat dikembangkan menjadi bahan bernilai tambah.
BRIN dan Universitas Nurtanio sebelumnya memang telah melakukan kerja sama riset mengenai pemanfaatan karbon aktif dari limbah kelapa sawit dan serat alam untuk material komposit yang dapat diaplikasikan pada struktur drone.
Artinya, riset yang dilakukan bukan muncul secara tiba-tiba, tetapi merupakan bagian dari pengembangan material biomassa yang telah dikerjakan melalui kolaborasi penelitian.
Mendorong Teknologi Drone yang Lebih Berkelanjutan
Penggunaan material berbasis biomassa membuka peluang baru dalam pengembangan teknologi dirgantara yang lebih memperhatikan aspek keberlanjutan.
Indonesia memiliki sumber daya biomassa yang beragam, mulai dari limbah pertanian, perkebunan hingga berbagai jenis serat alam.
Apabila material tersebut dapat memenuhi standar teknis dan diproduksi secara konsisten, pemanfaatannya dapat membuka peluang baru bagi industri dalam negeri.
Selain menghasilkan produk teknologi, riset seperti ini juga dapat mendorong pengembangan rantai pasok material lokal.
Tantangan Masih Panjang
Meski prototipe telah dikembangkan dan diuji, teknologi tersebut masih membutuhkan pengembangan lebih lanjut sebelum dapat diproduksi secara massal.
Material penerbangan harus memenuhi tuntutan yang jauh lebih ketat dibandingkan produk biasa. Struktur harus mampu menghadapi getaran, perubahan suhu, kelembapan, beban penerbangan dan berbagai kondisi operasional lainnya.
Selain itu, aspek produksi juga menjadi tantangan. Material biomassa harus memiliki kualitas yang konsisten agar setiap komponen yang dibuat memiliki karakteristik yang dapat diprediksi.
Karena itu, keberhasilan prototipe merupakan tahap penting, tetapi bukan tahap akhir dari proses menuju produk komersial.
Potensi Besar untuk Industri Dalam Negeri
Pengembangan drone berbasis material biomassa juga berkaitan dengan peluang meningkatkan penggunaan bahan baku lokal.
Indonesia tidak hanya memiliki sumber daya untuk menghasilkan biomassa, tetapi juga memiliki kebutuhan yang besar terhadap teknologi UAV untuk berbagai sektor.
Jika penelitian material tersebut terus berkembang, bukan tidak mungkin bahan berbasis serat alam dapat menjadi salah satu bagian dari ekosistem industri drone nasional.
Kolaborasi antara lembaga riset dan perguruan tinggi menjadi salah satu faktor penting untuk mendorong proses tersebut.
Indonesia Mulai Serius Mengembangkan Material Drone Alternatif
Pengembangan UAV berbasis serat alam menunjukkan bahwa inovasi drone Indonesia tidak hanya berhenti pada sistem elektronik atau kemampuan terbang.
Material penyusun wahana juga menjadi bagian penting yang terus diteliti.
Kolaborasi BRIN dan Universitas Nurtanio memperlihatkan bagaimana serat abaka, limbah sawit dan biomassa lainnya dapat diteliti untuk menghasilkan material komposit yang memiliki potensi digunakan dalam teknologi pesawat tanpa awak.
Dengan riset lanjutan, teknologi ini berpotensi membuka jalan bagi pemanfaatan sumber daya lokal untuk menghasilkan produk kedirgantaraan bernilai tinggi.
Kesimpulan
Pengembangan drone berbasis material biomassa oleh BRIN dan Universitas Nurtanio menjadi salah satu contoh bagaimana sumber daya lokal dapat diarahkan untuk mendukung inovasi teknologi.
Serat abaka dan material berbasis limbah kelapa sawit digunakan dalam pengembangan struktur UAV sebagai alternatif material konvensional. Dua prototipe yang dikembangkan, yakni UAV VTOL dan quadcopter, telah diperkenalkan dalam berbagai kegiatan riset dan pameran teknologi.
Meski masih berada dalam tahap pengembangan, inovasi ini menunjukkan potensi besar pemanfaatan biomassa Indonesia untuk teknologi penerbangan sekaligus membuka peluang baru bagi pengembangan industri drone nasional.
FAQ
1. Apakah Indonesia benar-benar membuat drone tanpa plastik dan logam?
BRIN dan Universitas Nurtanio mengembangkan prototipe UAV dengan struktur berbasis komposit serat alam dan biomassa sebagai alternatif material konvensional. Istilah “tanpa plastik dan logam” sebaiknya dipahami dalam konteks material struktur/wahana, bukan berarti seluruh komponen elektronik dan sistem pendukungnya bebas dari semua material tersebut.
2. Apa bahan utama drone tersebut?
Material yang dikembangkan mencakup serat abaka, serat tandan kosong kelapa sawit, karbon aktif biomassa, dan material komposit lainnya.
3. Siapa yang mengembangkan drone tersebut?
Riset dilakukan melalui kolaborasi Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk BRIN dengan Universitas Nurtanio Bandung.
4. Untuk apa drone tersebut digunakan?
Potensinya antara lain untuk pemetaan, pemantauan pertanian dan perkebunan, identifikasi hama, pengukuran kadar air tanah, serta membawa muatan ringan dalam kondisi tertentu.
5. Apakah drone tersebut sudah bisa terbang?
Prototipe quadcopter telah diuji dan dilaporkan dapat terbang dengan baik.
